PITA KASET

Posted by rentanG on Jun 29, '08 2:59 PM for everyone
NAFF - AkhirnyaKuMenemukanMu   
NAFF - KaulahHidupDanMatiku   
NAFF - KauMasihKekasihku   
NAFF - KetikaSemuaHarusBerakhir   

Posted by rentanG on Jun 21, '08 10:54 AM for everyone
Jika Bathinku Terjerat
Jika Rinduku Terjerat
Jika Ruang dan Waktu
Menjadi Gelap Untukku

Sebuah jawaban telah kuterima :
06 June 2008
13:26:22
" Maafkan jika keadaan tidak berpihak pada Kita...."

====

Kukunci Kamar
Kututup Hati
Kugelapkan Ruang



wieRGa 060607   

Posted by rentanG on Apr 24, '08 1:55 PM for everyone
Blitar, juga mungkin Indonesia (juga mungkin) dunia sedang HEBOH dengan pemberitaan media massa yang berjudul : " Rumah Bung Karno di Blitar, Di Jual 50 Milyar Rupiah".

Sekadar sebagai bahan perenungan dan pemaknaan akan perjalanan panjang BUNG KARNO The Founding Father, Proklamator kita, Presiden pertama RI, marilah sejenak memaknainya dengan mendengar dua lagu ini.

MERDEKA!!!!
BUNG KARNO - BRAM KAMPUNGAN   
JANUARY CHRISTIE - BUNGKARNO PUTERA SANG FAJAR   

Posted by rentanG on Mar 20, '08 12:44 PM for everyone
CICI SUMIATI Kita Berdua(GP)    
DHENOK WAHYUDI & JOCKIE S Dalam Kelembutan Pagi(GP)   
ERAMONO & ANDY M.M. Kenangan Asmara(GP)   

Posted by rentanG on Mar 15, '08 2:17 PM for everyone
Gito Rollies (Alm), bermain sangat apik dalam film ini. Berperan sebagai SAUT HAMONANGAN TOBING, seorang tentara yang akhirnya di hadiahi sebuah GITAR oleh Kolonel Gatot Subroto. Di Film ini, Mas Gito menyanyikan dua buah lagu karya ISMAIL MARZUKI, yaitu RINDU dan DJANGAN DITANJA.

JANGAN DITANYA
Cipt: ISMAIL MARZUKI

Jangan ditanya kemana aku pergi
Jangan ditanya mengapa aku pergi
Usah dipaksa tak menahan diri
Usah dipinta ku bersabar hati

Putuslah rambut putus pula Ikatan
Pecahlah piring hilang sudah
harapan Hati nan rindu apakah obatnya
Pandai dikau mempermainkan lidah
Menjual madu dibibir nan merah
Kubayar tunai dengan asmara
Kiranya dikau racun dilara

Jangan ditanya kemana aku pergi
Jangan dlsesal aku takkan kembali
Tammatkan saja riwayat nan sedih
Selamat tinggal kubermohon diri

====

RINDU
Karya : ISMAIL MARZUKI


Rindu lukisan mata suratan
Hatimu nan merindu
Rindu bayangan nan meliputi
Paras seri wajahmu
Mengapa mendusta seribu kata
Mengapa membisu seribu basa
Mungkinkah bulan merindukan kumbang
Dapatkah kumbang mencapai rembulan

Rindu katakan rindu usah kau
Malu karena asmara
Risau engkau risau dik akupun
Maklum maksud tak sampai
Rindu hatimu akupun demiklan
Rindu sudah nasib untung dibadan


...
Penasaran??? Simak dan Maknai
Klik juga :

http://cahdjengkol.multiply.com/video/item/19/GITO_ROLLIES_KERETA_API_TERAKHIR.mpg


salam
ganang@journalist.com
GITO ROLLIES - Djangan Ditanja (Film Kereta Api Terakhir) GP   

Posted by rentanG on Mar 13, '08 2:03 PM for everyone
Masih ingat lagu dolanan Gundul Gundul Pacul (GGP), buah karya R.C. Hardjosubroto : Gundul Pacul...

Gundul gundul pacul cul gelelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi dak ratan
Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan

========

Lagu dolanan yang sangat jenaka ini, tentu bagi banyak kalangan yang tinggal di Pulau Jawa sudah tidak asing lagi. Ditangan Yanu Kristiono, pelatih Kelompok Paduan Suara SDK Santa Maria Kota Blitar - Jawa Timur, lagu ini tampil lebih luar biasa. Dinamis dan sangat Apik.Dan karena lagu itu pulalah, Pasus SDK Santa Maria Blitar, berhasil menyabet Juara Pertama, pada Festival Lagu Daerah Tingkat Nasional Tahun 2006 yang lalu.

Yanu Kristiono yang sejak 2006 lalu melatih kelompok paduan suara ini, dibawah bimbingan Sr.Elfrida, menyebut tidak gampang melatih anak didiknya pada awal awal latihan.Berbekal pengalaman dan kesabarannya, hingga kini telah banyak meraih prestasi.Diantaranya :
- JUARA 1 PASUS TINGKAT JATIM
- 10 BESAR LAGU WAJIB TINGKAT NASIONAL

Jika penasaran, segeralah simak GGP, sebuah komposisi yang apik dari siswa - siswi SDK Santa Maria Kota Blitar ini. Mereka adalah : Gratia, Talita,Mega,Dita,Bella,Elfira, Desita,Yana,Angga,Bram,Radit, Yoseph, Krisna dan Gladia sang PIANIS nya.

GGM sendiri, menjadi salah satu lagu ilustrasi yang saya pilih dalam pembuatan Film Dokumenter Profile Kota Blitar, produksi BAPPEDA KOTA BLITAR tahun 2006 lalu.

ganang@journalist.com
Gundul Gundul Pacul - Pasus SDK Santa Maria Kota Blitar   

Posted by rentanG on Nov 10, '07 9:57 PM for everyone
http://www.tni.mil.id/patriotweb/?action=NewsDetail&id=20&catid=65&ed=5

MAKNA HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER

Tanggal 10 November merupakan salah satu dari hari bersejarah yang sangat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Tanggal 10 November telah dinyatakan oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan. Di tahun-tahun yang silam, sejak zaman Sukarno-Hatta, bahkan ketika Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, Hari Pahlawan selalu diperingati secara nasional.
Sebagai Hari Besar, maka Hari Pahlawan juga selalu dirayakan secara khidmat dan dengan rasa kebanggaan yang besar. Perayaan yang khidmat ini untuk membangkitkan dan menanamkan jiwa kepahlawanan, semangat cinta tanah air, semangat bertanggungjawab untuk mempertahankan tanah air dengan menghargai jasa para pahlawan pendahulu bangsa ini.
Peringatan Hari Pahlawan merupakan kesempatan bagi seluruh bangsa Indonesia bukan ssemata mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang yang tak terhitung jumlahnya demi memperjuangkan tegaknya Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Peringatan Hari Pahlawan 10 November, namun juga merupakan kesempatan yang baik untuk selalu memupuk rasa kesadaran berbangsa, bernegara, bermasyarakat di negara Indonesia ini. Semangat merah putih jangan sampai punah, tetapi harus selalu dipupuk dan disemayankan dalam setiap hati sanubari anak bangsa Indonesia.
Kini, ketika negara dan bangsa kita memasuki periode baru yang penuh dengan berbagai masalah dan krisis, ada baiknya bila kita mengenang dan merenungi kembali makna Hari Pahlawan 10 November. Dengan demikian kita akan kembali ingat bahwa Republik Indonesia yang sekarang ini adalah hasil perjuangan dalam jangka waktu yang lama dari banyak orang yang terdiri dari berbagai suku, agama, keturunan ras, dan berbagai macam pandangan politik. Dengan merenungkan, secara dalam-dalam, berbagai tahap perjuangan bangsa itu, maka akan makin jelaslah kiranya bagi kita semua, bahwa Republik Indonesia ini adalah benar-benar milik kita bersama bangsa Indonesia.
***
Mengenang dan melihat kembali makna Hari Pahlawan 10 November sudah sepantasnya bila kita menelusuri kembali sejarah bangsa Indonesia yang begitu panjang dan unik. Salah satu tahap penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia ini pada akhirnya menentukan bagaimana putra-putri terbaik bangsa ini menjadi tumbal untuk melahirkan dan memperjuangkan negara Republik Indonesia. Sejarah panjang ini telah secara nyata dimulai, antara lain dengan lahirnya Budi Utomo (Surabaya, 20 Mei 1908, yang saat ini dirayakan sebagai Hari Kebangkitan Nasional), lahirnya Sarekat Islam (Surabaya, 1912), Indische Partij (Bandung, 1912), Muhammadiyah (Yogya 1912), Perhimpunan Indonesia (di negeri Belanda, 1922), pemberontakan PKI (Jawa Tengah dan Sumatera Barat, 1926), lahirnya PNI (1927).
Dalam barisan panjang long march bangsa ini, patut kita catat juga kehadiran dan ikut sertanya berbagai gerakan seperti Jong Java (1918), yang disemarakkan pula oleh lahirnya Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Indonesia (Bandung, 1927), yang kemudian mencapai puncaknya dengan lahirnya Sumpah Pemuda (1928). Bagian-bagian lainnya dalam barisan long march bangsa, yang tidak bisa dilupakan juga, adalah kelahiran Parindra, Gerindo, Partindo, Pusat Tenaga Rakyat (1943, yang dipimpin oleh 4 serangkai Sukarno-Hatta-Ki Hadjar Dewantara-Kyai Haji Mas Mansur), kelahiran Pembela Tanah Air (PETA) tahun 1943, dan Barisan Pelopor (1944, yang dipimpin oleh Sukarno).
***
Pada tanggal 1 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di pulau Jawa, dan pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret. Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang. Dengan dijatuhkannya bom atom di Jepang (Hiroshima dan Nagasaki) dalam bulan Agustus 1945 oleh Amerika Serikat, maka pada tanggal 15 Agustus 1945 maka Jepang pun menyerah kalah tanpa syarat kepada Sekutu.
Selama pendudukan Jepang, di tengah penderitaan rakyat yang disebabkan oleh pendudukan tentara Jepang dan perang, maka di berbagai kalangan dan golongan, lahir pula semangat anti-Barat atau anti-kolonialisme, di samping perasaan anti-Jepang (terutama menjelang tahun 1945). Karenanya dalam rangka persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan menghadapi Sekutu, pemerintah Jepang kemudian menggunakan berbagai cara dan akal untuk merangkul rakyat Indonesia, untuk menghadapi Sekutu. Maka kemudian dibentuklah Peta (Pembela Tanah Air), dan Jepang juga menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia di kelak kemudian hari. Dan ketika itu pun para pemimpin Indonesia (antara lain Sukarno, Hatta dan lain-lainnya) menggunakan berbagai kesempatan waktu itu untuk menyusun kekuatan, demi cita-cita untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.
Sejarah kemudian mencatat, dengan kekalahan Jepang menghadapi Sekutu, maka kemerdekaan bangsa Indonesia kemudian diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu ketika pasukan pendudukan Jepang masih belum dilucuti oleh Sekutu. Sejak itulah terjadi berbagai gerakan rakyat untuk melucuti senjata pasukan Jepang, sehingga terjadi pertempuran-pertempuran yang memakan banyak korban di banyak daerah.
Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan pada tanggal 25 Oktober mendarat di Surabaya. Tentara Inggris itu didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu. Tugas adalah untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, dan memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, di samping itu, tentara Inggris juga memiliki tujuan rahasia, yakni untuk mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya.
Sejak mendaratnya tentara Inggris di berbagai daerah di Indonesia, menunjukkan bahwa kehadirannya (atas nama Sekutu) itu telah diboncengi oleh rencana pihak Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Tentara Inggris (Sekutu) yang datang ke Indonesia ternyata juga mengikutkan NICA (Netherlands Indies Civil Adminsitration). Kenyataan inilah yang kemudian meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana. Di Surabaya, dikibarkannya bendera Belanda Merah-Putih-Biru di hotel Yamato telah melahirkan Insiden Tunjungan, yang kemudian juga menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan beraneka-ragam badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya itu semakin memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada tanggal 30 Oktober.
Peritiwa terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby ini kemudian mengundang kemarahan pihak tentara Inggris. Dan pengganti Brigadir Jenderal Mallaby, yakni Mayor Jenderal Mansergh, kemudian mengeluarkan ultimatum yang dinilai sangat menghina terhadap para pejuang dan rakyat Indonesia umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah pada jam 6 pagi, tanggal 10 November 1945.
***
Sejarah pun kemudian mencatat, ternyata ultimatum yang dikeluarkan oleh Mayor Jenderal Mansergh itu ditolak oleh rakyat Indonesia. Bangsa Indonesia ketika itu pun memiliki kesadaran dan keinginan yang sangat kuat untuk tidak mau hidup di alam penjajahan bangsa asing, siapapun mereka. Terlebih lagi ketika itu pun Republik Indonesia sudah berdiri, walaupun baru saja diproklamasikan. Karenanya, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara yang saat itu juga telah dibentuk, dan organisasi-organisasi perjuangan yang telah dilahirkan oleh beraneka-ragam golongan dalam masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, pelajar, dan mahasiswa, serta badan-badan perjuangan lainnya muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda. Mereka kemudian melucuti pasukan Jepang dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang membonceng kehadiran tentara Inggris di Indonesia).
Dan ketika tanggal 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat dengan mengerahkan sekitar 30 000 tentaranya, puluhan pesawat terbang dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom dan ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka.
Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang dari penduduk. Pihak tentara Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak. Ternyata perkiraan itu pun keliru dan di luar dugaan Inggris. Perlawanan dari Tentara Keamanan Rakyat (yang kelak menjadi TNI) yang semula dianggap enteng, yang dilakukan secara bersama-sama dengan badan-badan perjuangan bersenjata dengan laskar-laskar yang banyak dibentuk oleh rakyat bisa bertahan lama, bahkan berlangsung dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, bahkan berlarut-larut. Memang, perlawanan rakyat itu pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, namun makin lama semakin teratur.
***
Kebesaran makna pertempuran 10 Nopember di Surabaya, yang kemudian dikukuhkan sebagai Hari Pahlawan, bukanlah hanya karena begitu banyaknya pahlawan, baik yang dikenal maupun tidak di kenal yang telah mengorbankan diri demi Republik Indonesia. Bukan pula hanya karena lamanya pertempuran secara besar-besaran dan besarnya kekuatan lawan. Kebesaran makna pertempuran Surabaya jelas terletak pada peran dan pengaruhnya terhadap jalannya revolusi waktu itu. Pertempuran 10 Nopember di Surabaya telah dapat menggerakkan rakyat banyak untuk ikut serta, baik secara aktif maupun pasif, dalam perjuangan melawan musuh bersama waktu itu, yaitu tentara Inggris yang melindungi (menyelundupkan) NICA ke wilayah Republik Indonesia. (Dari berbagai sumber).

Belajar dari tokoh Pahlawan

Untuk mengenang kembali jasa para pahlawan Indonesia, kita pun wajib mengetahui dan mendalami siapa saja mereka. Kita memang yakin, bahwa selain yang tercatat oleh sejarah, masih banyak pahlawan yang tidak sempat tercatat dalam buku sejarah. Keringat, darah, air mata, jasad, jiwa dan raga mereka harus menjadi semangat kita semua anak bangsa ini melanjutkan perjuangan mengisi dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Kita sebagai generasi penerusnya, harus mau dan mampu menjaga dan melestarikan bangsa dan negara ini. Sebab menjaga dan mempertahankan juga bukanlah pekerjaan yang mudah.
Bagaimana karakter, jiwa, dan semangat para pahlawan ini ? Kita bisa mengenal satu persatu dari sekian banyak pahlawan yang menjadi teladan kehidupan bangsa Indonesia ini. Berikut adalah dua sosok pahlawan yang perlu kita kenang dan perlu kita teladani.

Panglima Besar Jenderal Sudirman (1916-1950)

Salah satu tokoh besar di republik Indonesia yang dilahirkan oleh suatu revolusi adalah sosok Jenderal Soedirman. Betapa tidak ? Di saat usianya masih 31 tahun, ia sudah menjadi seorang jenderal. Soedirman dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916. Ia memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Ia kemudian melanjutkan sekolahnya di HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo, namun tidak sampai tamat.
Soedirman muda terkenal sangat disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini. Bahkan ia kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Sementara itu pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Setelah itu, ia pun menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk. Berkat kedisiplinannya, jiwa pendidik dan kepanduannya itulah yang kemudian menjadi bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia.
Soedirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu.
Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini. Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.
Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, Soedirman berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Karenanya ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.
Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan dalih untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut membonceng. Akhirnya TKR terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Soedirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.
Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit, keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi. Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan.
Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan, namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan kepada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara. Maka walaupun harus ditandu,
Soedirman berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah, sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tetapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya.
Soedirman yang pada masa pendudukan Jepang pernah menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas ini, juga pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.
Dan pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta, dan dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.
Karenanya Soedirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. (Dari berbagai sumber).

BUNG TOMO
Satu lagi pahlawan yang bisa kita teladani adalah Bung Tomo. Tokoh ini memiliki peran besar dalam pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya, hingga peristiwa itu kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Dengan pidato-pidatonya yang retoris, Bung Tomo mampu menggerakkan rakyat Surabaya bangkit melawan penjajah Belanda yang hendak menguasai kembali Indonesia dengan membonceng tentara sekutu (Inggris).
Dan inilah sosok Bung Tomo yang sangat terkenal itu. Sutomo (lahir di Surabaya 3 Oktober 1920, meninggal di Makkah, 7 Oktober 1981) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah.
Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBSnya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.
Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi oarng kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.
Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh heroisme menentang Belanda.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Suekarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional. Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehinga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto.
Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.
Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Makkah, sementara sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya. Dengan ketokohan seorang Bung Tomo, dengan segala jasa dan pengorbanannya, alangkah sayang bila Bung Tomo hingga saat ini belum di angkat sebagai pahlawan nasional.
( Dari berbagai sumber, seperti Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia; Bung Tomo dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru, oleh Frans M. Parera, PT Gramedia, Jakarta; Petikan-Petikan Amanat Panglima Besar Soedirman, Lembaga Pengkajiaan Kebudayaan Taamanssiswa, 1999).


*******
catatan :
Semoga tidak terlalu telat, ketika kita kembali memaknai Arti Hari Pahlawan kali ini. Untuk melengkapinya, saya sertakan Cuplikan Orasi BUNG TOMO.
Salam
B U N G T O M O - Patriotisme&Nasionalisme(01 GP)   
B U N G T O M O - Patriotisme&Nasionalisme(02 GP)   

Posted by rentanG on Oct 31, '07 11:34 PM for everyone
PIKIRAN RAKYAT
Minggu, 21 Desember 2003

The Rollies Hadirkan Nuansa Nostalgia

SEDERET tembang milik The Rollies, satu dari puluhan ikon musik negeri ini yang pernah ada dan menyemarakkan khazanah musik tanah air, seperti menarik penonton untuk mengingatkan akan kejayaan grup beraliran brass rock di era tahun '70-an ini. Semisal tembang "Kemarau", meski dinyanyikan dalam suasana Bandung Utara yang diguyur hujan gerimis, tetap saja mampu menghadirkan suasana kemarau karena mengingatkan pada penyanyinya yang bersuara parau dan kering.

// Tiada pohon yang rindang/tempat berteduh diri/ mata air pun kering/suara hatipun membisu/ saat itu kemarau yang datang//.... Ya, komposisi "Kemarau", yang pertama kali dinyanyikan Delly Joko Arifin atau dikenal dengan sebutan Delly Rollies ini memang sarat kenangan bagi para penonton yang pernah mengalami masa muda pada dekade '70-an itu.

Tembang yang lebih banyak didominasi sayatan gitar melodi dan harmoni layaknya pop rock pada zamannya tersebut, benar-benar membawa nuansa nostalgia dalam pergelaran bertajuk "Golden Memories-The Rollies and Friends", Jumat (19/12) malam di Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang Ciumbuleuit.

Tidak hanya itu, tembang "Bimbi" pun tidak luput dinyanyikan. Bahkan, penonton yang memadati Bumi Sangkuriang sepertinya tidak ingin melewatkan begitu saja bait demi bait lagu, terutama pada bagian reffrain-nya, //Bimbi/tak kenal kampungnya/Bimbi/tak kenal lagi saudara//.

Tembang yang menceritakan kehidupan seorang gadis desa yang nekat datang ke kota besar tanpa memiliki pengalaman itu benar-benar fasih dinyanyikan penonton. Di antara mereka yang turut bernyanyi, kaum ibu lebih banyak mendominasi. "Saya benar-benar merasa tersanjung andai saja almarhum masih ada mungkin dia akan merasa bahagia," ujar Iskandar Rollies dengan nada pelan, mengenang sejawatnya di The Rollies, Delly.

Selain dua tembang yang membawa The Rollies ke jenjang atas grup musik papan atas saat itu (tahun 1970), juga dilantunkan tembang-tembang dari album "The Rollies" (1966), "Rollies Live" (1976), "Rollies" (1983), dan dari album pamungkas mereka "Suara Radio" yang dirilis di tahun 1988 dan sempat membangkitkan nama Gito Rollies dengan tembang bertajuk "Astuti".

Pergelaran yang diprakarsai oleh Iskandar Rollies itu memang dimaksudkan sebagai ajang kangen bagi mereka yang pernah menikmati masa jaya anak-anak Bandung baheula dalam meramaikan belantika khazanah musik tanah air. Selain itu, pergelaran juga dimaksudkan untuk mengingat karya-karya The Rollies serta empat personelnya yang kini telah tiada, yaitu Iwan Krisnawan yang wafat tahun 1974, disusul secara berturut-turut, Deddy Stanzah (2001), Delly Rollies (2002), dan Bonnie Rollies yang meninggal 13 Juli 2003 lalu.

The Rollies merupakan grup musik yang dibentuk sebagai bagian dari pemberontakan anak-anak muda di era tahun '70-an. Dibentuk di Bandung tahun 1967, yang dibidani Deddy Stanzah, vokalis dan pemain bas, dengan band Delimas yang diperkuat Delly Joko Arifin (vokal, keyboard), Iskandar (gitar), dan Iwan Krisnawan (drum), serta belakangan Bangun Sugito atau Gito Rollies ikut bergabung.

Pada awalnya The Rollies banyak mengusung tembang-tembang grup band luar semisal The Monkeys dan Cream. Dengan formasi Deddy Stanzah (vokalis, bas), Delly Rollies (vokal, keyboard), Iskandar (gitar), Iwan Krisnawan (drum), dan Gito Rollies (vokal), The Rollies sempat manggung di Bioskop Capitol Singapura.

Warna musik The Rollies mulai mengalami pergeseran setelah Benny Likumahuwa (trombon) bergabung. Musisi yang dibesarkan di jalur jazz ini banyak memengaruhi warna musik The Rollies yang tadinya pop rock lantas mendapat sentuhan brass section bernuansa jazz. Sejak itu, musik mereka pun mengacu pada corak yang sering diusung band asal Amerika, Chicago dan Blood, Sweat & Tears atau Tower of Power, yang lebih menonjolkan brass section.

Bahkan, dalam perjalanannya, pergeseran warna musik semakin kentara dengan bergabungnya Tengku Zulian Iskandar (saksofon) dan Bonnie Nurdaya (vokal, gitar). Demikian pula di tahun 1974, ketika formasi The Rollies kembali mengalami perubahan, Jimmy Manoppo (drum) masuk menggantikan posisi Iwan dan Uce F. Tekol (bas) mengisi posisi lowong yang ditinggalkan Deddy Stanzah. Personel lain yang masuk melengkapi The Rollies, yakni Didit Maruto (terompet) dan Wawan (trombon). (Retno HY/"PR")***

####

Ini adalah rekaman penampilan THE ROLLIES pada hari Jumat 19 Desember 2003 lalu di Bumi Sangkuriang. Terimakasih untuk Mas Iskandar Rollies yang telah memfasilitasi.Juga untuk Ganesha FM yang telah jadi partner terbaik kala itu.
01. ROLLIES(ganang@journalist.com)   
02. ROLLIES(ganang@journalist.com)   
03. ROLLIES(ganang@journalist.com)   
04. ROLLIES(ganang@journalist.com)   
05. ROLLIES(ganang@journalist.com)   
06. ROLLIES(ganang@journalist.com)   
07. ROLLIES(ganang@journalist.com)   
08. ROLLIES(ganang@journalist.com)   

Posted by rentanG on Oct 31, '07 2:23 AM for everyone
Sumba begitu eksotis. Indonesia Timur,memang Indonesia yang sebenarnya.Susah untuk melupakan Sumba. Segalanya.

Tahun 2001an, saya mendapat kesempatan untuk menjadi Instruktur pada Workshop Radio Siaran di Radio Suara Mandaelu, RKPD Sumba Barat di Waikabubak.Inilah kali pertama saya bersinggungan bathin dengan budaya, alam, dan masyarakat Sumba Barat.

Waikabubak, hanya sempat saya singgahi tak kurang dari satu bulan, jadi rasanya begitu kurang, kurang dan kurang. Selama di Waikabubak,hampir tiap paginya, saya sempatkan untuk menyusuri kota dari ujung ke ujung.

Seorang Penyanyi (wanita) Sumba Barat,sempat saya kenal di Radio Suara Mandaelu. Darinya saya peroleh sebuah kaset, yang baru diproduksi dan telah beredar di Waikabubak. Dia baru saja datang dari Jakarta kala itu, untuk proses rekaman album ke duanya.

Kaset itu, kini entah kemana...saya menyesal tidak bisa mengamankan dan menyimpannya dengan baik. Syukur, saya masih sempat memindahkan 3 lagu dari pita kaset itu ke file berformat Mp3, yang kini bisa saya upload di MP.

Parahnya lagi, saya sudah lupa,siapa nama penyanyi yang pernah saya ajak wawancara perihal album lagu Sumba ini. Setidaknya, siapapun yang kenal Sumba, Putra/Putri kelahiran Sumba (Barat dan Timur) bisa menyimak lagu Sumba yang hanya ada tiga ini.

Sumba, kelak saya akan datang lagi.........semoga

***
Trimakasih untuk Crew RKPD Sumba Barat/ Radio Suara Mandaelu di Waikabubak. Suwun juga untuk sang PEMANTIK (rambu debby). Khusus,bahkan sangat sangat khusus untuk Kang Encang & Kang Arcy di Bandung. Tanpa anda berdua, saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di Sumba.

SUMBA - Luawa Kau Pani Eringgu (ganang@journalist.com)   
SUMBA - Ina (ganang@journalist.com)   
SUMBA - Ina Ama Yamme (ganang@journalist.com)   

Posted by rentanG on Oct 29, '07 3:39 PM for everyone
Sendiri
Dalam Sepi
Dalam Gundah
Mendekap Malam
Merenungkan Perjalanan Bathin
Memaknai Hidup...



ganang@journalist.com
MUSIKNYA GP - SEKAR (Spirit Of Plants)   

Pages:1234
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help