

TAHU LONTONG & NASI TAHUBukan LONTONG TAHU & NASI TAHUAda yang menggelitik dalam benak saya ketika membaca spanduk kecil atau banner yang bertuliskan seperti 2 gambar diatas.
Bukan tidak ada kerjaan, sehingga mungkin saya dianggap terlalu jeli mengamatinya lalu menuliskannya dalam coretan ringkas ini. Tapi tolong perhatikan. Lebih dari 2 warung yang menyediakan makanan berbahan tahu digoreng, dibumbui kecap dan petis, lalu dicampur nasi atau lontong dan dilengkapi krupuk ini, cara penulisan bannernya sperti diatas. Lalu kenapa tidak dituliskan “TAHU LONTONG & TAHU NASI” atau “LONTONG TAHU & NASI TAHU”. Semua pasti meuliskannya “ TAHU LONTONG & NASI TAHU” atau “NASI TAHU & TAHU LONTONG”.
Lebih dari 100 WarungBerkeliling Blitar, menjelajahi kota, pinggiran kota hingga pelosok Blitar, akan kita dapati spanduk kecil atau banner bertuliskan serupa. Fantastis, lebih dari 100 warung, dalam hitungan saya. Setidaknya selama setahun terakhir ini, saya mencari tahu alasan penulisan judul makanan yang merakyat ini.
Mbok Bedjo, yang sejak tahun 1970an membuka warung Tahu Lontong di jalan Shodanco Supriyadi Kota Blitar mengatakan, penyebutan Tahu Lontong dan nasi tahu, memang sudah lazim bagi kebanyakan orang di Blitar, bahkan menurutnya sudah sejak dulu demikian adanya.
Serupa dengan apa yang disampaikan Mbok Bedjo, Mak nDut, pemilik warung Tahu Lontong di jalan Dr.Wahidin Blitar menambahkan, jika menyebut Tahu Lontong itu adalah sebutan yang tepat. Nasi Tahu juga sudah tepat. Hanya menurutnya jika menyebut Lontong Tahu atau Tahu Nasi, rasanya tidak tepat dan tidak biasa, atau tidak lazim bagi Wong Blitar.
Sementara, Mak Kasinah yang membuka warung Tahu Lontong di dekat pasar Kanigoro (8 kilometer Tenggara Kota Blitar), mengatakan, tentang penyebutan istilah, dia tidak mengetahuinya. Ia memesan spanduk di tukang sablon, dan jadinya seperti kebanyakan bertuliskan “ Tahu Lontong & Nasi Tahu”
Oalah…