Empat April 1993 - Empat April 2008Hari ini, Jumat 4 April 2008, jadi teringat persitiwa 15 tahun yang lalu. Lupa harinya, yang masih membekas di belakang foto tertulis "gp & lilies suryani 4/4/93". Artinya foto ini diambil gambarnya pada tanggal itu.
Bandung 15 tahun yang lalu, awal April 1993. Pagi sekitar jam 8, mendung masih juga menutupi matahari pagi, semakin dingin. Penuh semangat dari studio meluncur ke arah pusat kota Bandung, menuju ke Hotel Naripan di jalan Naripan.
Memasuki lobi hotel, masih tampak sepi. Kepada sang resepsionis hotel saya sampaikan niat saya untuk menemui pelantun lagu Gang Kelinci, Lilis Suryani. Tak berapa lama, memalui telephone dikonfirmasikan, agar saya menunggunya. Mbak Lilies baru usai mandi. Lega rasanya, hari itu akhirnya bisa juga wawancara dengan Mbak Lilies.
Kebetulan, tadi malamnya beberapa artis diantaranya Lilies Suryani, Yana Julio, manggung pada sebuah acara di Bandung. Saya sendiri tidak dapat tugas untuk meliputnya malam itu. Jadi sebagai pengganti, paginya saya menemui Mbak Lilies di Naripan Hotel, tempatnya menginap.
Menjelang jam 9 pagi, Mbak Lilies Suryani akhirnya menemui saya di lobi hotel. Sebelum menemui saya, dia berucap " Mana dik Ganang Partho, reporter Radio Ganesha?". Saya pun beranjak dari tempat duduk, dan menyalaminya. " Saya Ganang mbak. Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk bisa wawancara pagi ini".
Akrab dan menyenangkan. Demikian suasana yang tergambar pagi pagi itu. Mengalir deras pertanyaan yang saya lontarkan, dan dengan renyahnya mbak Lilies menjawabnya. sangat menyenangkan.
Satu hal yang tidak akan saya lupakan dari pertemuan itu adalah, Mbak Lilies sangat - sangat tidak menganggap remeh seorang jurnalis. Begitu menghormati dan sangat familiar. Ya, ini hanya sebuah kenangan . Yang takkan pernah saya lupakan, 15 tahun lalu saat wawancara dengan Lilies suryani. Saking semangatnya, kaset C 90 pun bolak - balik penuh dengan rekaman wawancaranya.
ganang@journalist.com
====
"Jakarta kotaku indah dan megah/ Di situlah aku dilahirkan/ Rumahku di salah satu gang, namanya Gang Kelinci...."
Itu lagu Gang Kelinci yang memopulerkan nama penyanyinya, Lilis Suryani. Lilis yang meninggal dunia pada hari Minggu, 7 Oktober 2007, adalah penyanyi yang lahir dari gang-gang kehidupan rakyat.
Inilah kenangan Titiek Puspa tentang Lilis Suryani. Suatu kali pada tahun 1963, Titiek yang tinggal di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, kedatangan gadis berusia 15 tahun. Saat itu Titiek belum mengenal gadis bertubuh mungil yang ternyata Lilis Suryani.
"Tante Titiek, tolong bikinin lagu," kata Titiek menirukan permintaan Lilis.
Seharian Lilis menunggui Titiek membuat lagu dan belum juga dibuatkan. Titiek akhirnya terketuk hati melihat kegigihan gadis kecil yang berusaha mencari nafkah sendiri dengan bernyanyi itu. Karena hari telah menjelang sore, Titiek lalu mengantarkan Lilis pulang ke rumahnya di Gang Kelinci, Pasar Baru. Mereka naik becak berdua.
"Sampai di Gang Kelinci, saya lihat rumah itu uyek-uyekan, padat rapat. Selokan bau, dan anak-anak pating kruntel, berjubelan. Waktu naik becak pulang, muncul ide lagu. Di rumah saya tulis dan jadilah Gang Kelinci," kenang Titiek tentang lagu Gang Kelinci yang dipopulerkan Lilis Suryani ke seluruh penjuru pada sekitar awal 1964.
Apa yang terlihat di gang padat tadi menjelma dalam lirik, "Anak-anak segudang, gludak- gluduk kayak kelinci". Lilis melantunkannya dengan suara lantang dan jernih. Gang Kelinci populer bertahun-tahun setelah direkam. Ia menjadi lagu rakyat sebuah negeri yang tengah bangga-bangganya mempunyai bangsa berikut pemimpin yang dipanggil sebagai Paduka yang Mulia. Lagu Lilis disukai mulai dari rakyat di gang-gang sampai pemimpin bangsa di Istana. Penyanyi dari Gang Kelinci ini cukup dikenal Bung Karno.
Bung KarnoLilis yang lahir di Jakarta, 22 Agustus 1948, itu mulai bernyanyi sejak kelas VI sekolah rakyat di Gang Topekong, Kota, Jakarta. Umur 14 tahun saat bersekolah di Sekolah Kepandaian Putri Budi Utomo, ia telah bernyanyi di Istana Negara. Ia adalah yang terkecil di antara penyanyi yang pernah tampil di Istana, seperti Masnoen, Titiek Puspa, sampai Nien Lesmana.
"Saat itu saya mulai dikenal Bung Karno. Saya duduknya mojok karena takut," kenang Lilis, dalam sebuah wawancara dengan penulis pada tahun 1996.
"Pas giliran akan menyanyi, Bung Karno nyamperin saya. Terus ditanya, ’Mana yang nyanyi Tjai Kopi?’ Saya gemetar ketakutan. Saya nyanyi ditungguin sampai selesai," cerita Lilis sekitar sepuluh tahun silam.
Tjai Kopi adalah lagu pop dengan lirik berbahasa Sunda gubahan Lilis. Lagu itu cukup populer. Setidaknya sampai dikenal Bung Karno. Tjai Kopi sebenarnya tidak masuk lagu yang harus ia bawakan, tetapi Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi itu, meminta dan dengan bangga Lilis membawakannya.
Lagu berbahasa daerah memang pernah digemari pendengar di luar pengguna bahasa daerah tersebut. Lilis, misalnya, memopulerkan lagu berbahasa Sunda ciptaan Mus K Wirya seperti Teungteuingeun dan Pileuleuyan.
Lilis ikut menjadikan lagu daerah menjadi milik nasional.
"Tiga Malam"Lagu-lagu Lilis era 1960-an merefleksikan kondisi sosio-kultural serta psikologi bangsa yang bangga tersebut. Jangan heran jika Bareh Solok yang berbahasa Minang dari Elly Kasim itu juga populer pada era hampir sama.
Selain itu, atmosfer heroik dan patriotik masih melingkupi musik pop di republik negeri yang berusia 20 tahun. Lagu Tiga Malam yang digubah dan dinyanyikan Lilis berkisah tentang seorang yang selama tiga malam mencari kekasihnya. Ia hanya ingin berpamitan untuk pergi ke medan laga, "Kuingin izinmu sayang/ Tuk melepas daku berjuang/ Relakan daku oh kasih membela nusa dan bangsa...". Sangat melankolis dan heroik, terlebih lewat suara Lilis yang ekspresif.
Kisah Si Baju Loreng bertutur tentang kegagahan prajurit berbaju loreng yang duduk di tepi pantai. Lagu Paduka yang Mulia tentu ditujukan kepada yang empunya gelar, yaitu Presiden Soekarno.
Lilis juga berlagu tentang kehidupan remaja yang memang menjadi dunia Lilis dan pendengarnya saat itu. Titiek Puspa menuliskan beberapa lagu remaja untuk Lilis, seperti Asmara dan Ulang Tahun yang termasuk sangat populer. Lagu itu berkisah tentang gadis yang genap berusia 17 tahun.
"Diam-diam kukunci kamar/ kuberkaca berputar-putar/ Kuberkhayal seperti putri raja/ Setelah sadar kutertawa...".
The FemalesMenjelang akhir 1960-an, Lilis menyanyikan lagu bergaya Melayu Deli. Dia bergabung dengan band perempuan The Females sebagai vokalis dan pemain drum. Band ini antara lain didukung Rosye Sumanti serta Rosita Rachman, kakak artis Yenny Rachman. Saat itu memang sedang tren band perempuan menyusul sukses band Dara Puspita dari Surabaya. Selain The Females tersebutlah antara lain The Singers sampai The Beach Girls.
Sampai tahun 2000-an Lilis masih bernyanyi. Akan tetapi, popularitasnya tak seperti era 1960-an. Saat itu Lilis menjadi semacam suara zaman. Ia tak hanya mewakili gejolak remaja, tetapi juga persoalan rakyat dan suasana hati bangsa. Mungkin itu yang membuat Ulang Tahun, Tiga Malam, dan Gang Kelinci menjadi lagu rakyat lewat suara Lilis Suryani.
sumber:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0...ma/3909328.htm