Banyak dirikan SMK

Indonesia yang keadaannya begitu rupa, akan lebih jauh ketinggalan jikalau model pendidikan seperti sekarang ini, banyak SMA dari pada SMK. biasanya setelah lulus SMA sebagian untuk melanjutkan di PT, tapi banyak juga dan kerja ataupun buka usaha sendiri. untuk yang dari SMA dibanding dengan SMK tentu dari kompetensi individu jauh beda, kalau dari SMA sifatnya generalized (umum) kalau dari SMK sifatnya specialized (kekhususan).

Maksudnya yang dari SMA menekuni apa saja dapat dilakukan tetapi harus lagi mulai dari nol. tetapi kalua dari SMK sudah ada komptensi dasar untuk menekuni bidang tertentu.tinggal memperdalam kompetensi yang ada.

Untuk negara kita, jadi dirikanlah banyak SMK atau kalau perlu ubah SMA menjadi SMK. untuk mencetak generasi yang berkompeten dibidangnya lebih awal. kita hanya butuh sebagian saja untuk ke PT, sebagian lain tentunya ahli dalam level lebih rendah. kalau semua jadi orang terdepan, lalu siapa yang jadi level di bawahnya.

OK itu saja hasil pemikiran saya.

http://crewl.multiply.com
wahyu.subagiyo@gmail.com


=====

Ureg - uregan diatas ditulis oleh kawan lama saya yang diposting pada 30 Januari lalu.Kawan lama saya  ini  seorang Guru/ Pengajar di SMK Kartanegara (Wates - Kediri Jatim). Nama kawan saya ini Dwi Wahyu Subagiyo.

Sering, bahkan  berkali kali, saya lihat iklan SMK di Televisi, yang dibintangi oleh  Tantowi Yahya. Mungkin kawan MPers lainnya juga pernah melihatnya. Ada benarnya SMK diperbanyak di negeri ini.

Sudahlah, sementara waktu ini saya belum bisa berkomentar banyak.Kawan MPers ada yang mau berkomentar????



amaltiagunawan wrote on Apr 3
kalau menurut saya, bukan jumlahnya yang perlu diperbanyak,
tapi lebih kepada bagaimana dengan jumlah yang ada ini kualitas anak didik meningkat, baik kualitas anak didik menghadapi dunia kerja sesuai spesialisasinya di SMK, atau anak didik yang jikalau nanti ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tetap kompeten dan berkualitas.
coba mulai membenahi dulu hal hal yang langsung berkenaan dengan anak didik, misalnya, kurikulum yang berbasis kompetensi, fasilitas yang tercukupi dari anggaran negara, juga kualitas pengajar sendiri.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help